Kamis, 13 Oktober 2011

Rabu, 05 Oktober 2011

Mendaki Gunung Kesuksesan

Hidup ini seperti mendaki gunung dan kita dilahirkan dengan satu dorongan untuk terus mendaki. Pendakian dalam hidup ini bagaikan menggerakkan tujuan hidup kita terus ke depan, apapun tujuan itu. Kesulitan lama mendaki gunung kesuksesan sangat relevan sekali dengan pertanyaan-pertanyaan dibawah ini :


1.  Mengapa ada orang yang mampu bertahan dalam sebuah tantangan sementara orang lain gagal?

2.  Mengapa ada perusahaan yang terus maju dalam persaingan, sementara perusahaan lain hancur?

3.  Mengapa ada pengusaha yang mampu mengatasi hambatan yang tidak terkira sulitnya, sementara yang lainnya menyerah?

4.  Mengapa ada orangtua yang berhasil membesarkan anaknya di tengah lingkungan yang penuh tantangan sedangkan yang lainnya tidak?

5.  Mengapa ada banyak orang yang kemampuannya tertinggal jauh dibandingkan dengan mereka yang memiliki bakat atau IQ yang tinggi?

Penggalian jawaban atas pertanyaan di atas membuat kita mengerti bahwa kunci kesuksesan dalam mendaki gunung kehidupan ini bukan hanya tergantung pada Kecerdasan Intelegensia (IQ), Kecerdasan Emosi (EQ), tetapi ternyata ada satu hal lain yang penting yaitu AQ (Adversity Quotient).

Fenomena tentang Adversity Quotient (AQ)
AQ adalah kecerdasan yang menggambarkan keuletan manusia. Individu yang mampu mengaplikasikan AQ di dalam tantangan dan masalahnya akan memiliki produktivitas yang lebih optimal. Kita selalu menghadapi masalah dan tantangan setiap hari, besar atau kecil, sulit atau mudah.

Orang yang memiliki AQ tinggi bukan saja mampu belajar dari tantangan ini, tetapi juga mampu merespon lebih baik dan cepat.

Hal yang sama juga terjadi dalam bisnis, organisasi yang memiliki AQ tinggi mampu menghasilkan kapasitas dan produktivitas yang naik, dan lahirnya inovasi.

Perbedaan IQ, EQ dan AQ

IQ saja tidak cukup untuk mencapai kesuksesan. Mitos lama mengatakan bahwa IQ adalah kunci keberhasilan seseorang, padahal di sekeliling kita, sudah sangat sering kita lihat bahwa mereka yang memiliki IQ tinggi tetapi tidak mampu mewujudkan potensinya.

Ambil saja contoh kasus Cho – Virgina Tech, ia seorang yang cerdas tetapi penyendiri, kasusnya berakhir dengan kematian 33 orang termasuk dirinya. Contoh lainnya adalah Ted Kaczynki di Amerika Serikat yang diperiksa atas tuduhan “pemboman” dan telah membunuh & melukai banyak orang. Ted juga dikenal sebagai orang yang IQ-nya tinggi, seorang anak ajaib yang masuk Harvard pada usia 16 tahun dan lulus pada umur 20 tahun. Ia seorang Doktor dibidang Matematika dari University of Michigan. Cho dan Ted terbiasa dididik untuk mengembangkan pikirannya, sehingga kemampuan bersosialisasi dan kecerdasan emosinya tidak pernah berkembang. Kekuatan mereka adalah kecerdasan IQ dan mereka gagal dalam hidupnya.

Kecerdasan Emosi-kah yang menjadi kunci keberhasilan? Kisah Cho & Ted berkaitan erat dengan tulisan Daniel Goleman yang menjelaskan mengapa orang yang IQ-nya tinggi mengalami kegagalan sedangkan yang lainnya dengan IQ yang sedang-sedang saja bisa berkembang pesat. Goleman mengemukakan bahwa, dalam kehidupan, EQ lebih penting daripada IQ. Namun, seperti halnya IQ, tidak setiap orang memanfaatkan EQ dan potensi mereka sepenuhnya.

Sejumlah orang memiliki IQ yang tinggi berikut segala aspek kecerdasan EQ, namun tragisnya, mereka gagal menunjukkan kemampuannya. Agaknya, bukan IQ ataupun EQ yang menentukan suksesnya seseorang. Jadi pertanyaannya masih sama, mengapa ada orang yang mampu bertahan, sementara yang lainnya –sama-sama brilian dan pandai bergaul- gagal. Ternyata AQ mampu menjawab pertanyaan sulit ini!

Apabila perjalanan sukses seseorang diumpamakan seperti mendaki gunung, dan semua pendaki adalah individu-individu brilian dan pandai bergaul, AQ orang tersebutlah yang menentukan apakah ia akan berdiam atau terus mendaki.

Quitters, mereka yang berhenti. Orang yang memilih untuk keluar dari masalah, menghindari kewajiban, mundur, menyerah sebelum berperang atau berhenti. Mereka menolak kesempatan yang diberikan oleh gunung kehidupan, mereka meninggalkan impiannya dan memilih jalan yang mereka anggap lebih datar dan lebih mudah.

Campers, mereka yang berkemah. Mereka pergi tidak seberapa jauh lalu berhenti, mungkin karena bosan, mereka mengakhiri pendakiannya dan mencari tempat datar yang rata dan nyaman sebagai tempat persembunyiannya. Berbeda dengan Quitters, Campers telah melalui sebagian tantangan pendakian. Pendakian tidak selesai ini oleh sementara orang dianggap sebuah “kesuksesan”. Campers mungkin merasa cukup senang dengan ilusinya sendiri tentang apa yang sudah ada, dan mengorbankan kemungkinan untuk melihat atau mengalami apa yang masih mungkin terjadi.

Climbers, mereka yang terus mendaki untuk meraih kesuksesan. Climbers membaktikan diri pada pertumbuhan dan belajar seumur hidup. Climbers tidak berhenti pada gelar dan jabatan, mereka akan terus mencari dan belajar cara-cara baru untuk bertumbuh dan berkontribusi bagi diri dan lingkungannya. Climbers tidak pernah melupakan “kekuatan” dari perjalanan yang pernah ditempuhnya. Thomas Alfa Edison adalah seorang Climbers, ia membutuhkan waktu 20 tahun dan 50.000 percobaan untuk menemukan baterai yang ringan, tahan lama dan efisien.


Kaitan IQ, EQ dan AQ dalam meraih kesuksesan

Oleh :  Ir. Bambang Syumanjaya, MM, MBA, CBA
post : 5403.LEK VII.068.05

Gulma Yang Bermanfaat

Orang sering menyebut gulma dengan nama rumput pengganggu, rumput liar atau tumbuhan liar merupakan tumbuhan yang keberadaannya tidak diinginkan karena bisa mengambil nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman utama atau tanaman produksi dan juga bisa menjadi tanaman inang bagi hama dan penyakit sehingga bisa menurunkan hasil panen.
Selama ini kita menyangka bahwa gulma atau rumput-rumputan liar yang hidup di pekarangan, sawah, kebun, taman, perkebunan itu dianggap sebagai tanaman yang tidak berguna, dan cenderung merugikan apalagi jika tumbuh diantara tanaman hortikultura dan tanaman lain yang dibudidayakan. Tapi tahukah dan terpikirkah oleh anda jika gulma ternyata mempunyai banyak khasiat bagi kesehatan yang belum pernah kita ketahui?
Tuhan menciptakan segala sesuatu di muka bumi ini pasti ada tujuan dan memberikan manfaat. Hanya saja kita yang tidak tahu manfaat apa yang ada dibalik sesuatu (tanaman dan tumbuhan) ciptaan-NYA yang mungkin keberadaannya hanya kita pandang sebelah mata dan bahkan berusaha untuk menghilangkannya.
Bagi petani dan pengusaha pertanian, gulma/tumbuhan liar jelas akan merugikan karena bisa menurunkan hasil dari tanaman produksi. Bagi hobiis dan ahli taman, gulma akan merusak nilai keindahan atau pemandangan. Tetapi bukan tidak mungkin jika di suatu hari tumbuhan tersebut menjadi tanaman yang dibudidayakan dan akan menjadi barang langka yang sangat sulit dicari untuk dijadikan sebagai obat-obatan ketika bahan kimia sudah tidak mampu lagi mengobati berbagai jenis penyakit.
Di sini florabiz akan mencoba membahas beberapa jenis gulma/rumput liar, khasiat dan resep herbalnya.
Beberapa Jenis Tumbuhan/Gulma dan Khasiatnya

1. Meniran (Phylanthus urinaria, Linn.)

Morfologi Meniran : Batang , berbentuk bulat berbatang basah dengan tinggi kurang dari 50 cm. Daun : Mempunyai daun yang bersirip genap setiap satu tangkai daun terdiri dari daun majemuk yang mempunyai ukuran kecil dan berbentuk lonjong. Bunga, terdapat pada ketiak daun menghadap kearah bawah. Syarat Tumbuh, meniran tumbuhan yang berasal dari daerah tropis dan tumbuh liar di Hutan-hutan, ladang-ladang, Kebun-kebun maupun pekarangan halaman rumah, pada umumnya tidak dipelihara, karena dianggap tumbuhan rumput biasa. Meniran tumbuh subur ditempat yang lembab pada dataran rendah sampai ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut.
Meniran mengandung filantin, hipofilantin, kalium, damar dan tannin. Filantin dan hipofilantin berkhasiat melindungi sel hati dan zat toksik (hepatoprotektor).
Meniran berkhasiat membersihkan hati/ sakit kuning (liver),ayan, pereda demam, peluruh kencing, peluruh dahak, peluruh haid,disentri, mengobati jerawat dan menambah nafsu makan.

2. Rumput Teki ( Cyperus rotundus )

Tanaman ini tarmasuk dalam family Cyperaceae. Rumput teki merupakan rumput semu menahun, tingginya 10-95 cm. Batang rumputnya berbentuk segitiga dan tajam. Daunnya berjumlah 4-10 helai yang terkumpul pada pangkal batang. Akar dengan pelepah daunnya tertutup tanah. Helaian daun berbentuk pita bersilang sejajar. Permukaan atas berwarna hijau mengilat dengan panjang daun 10-30 cm dan lebar 3-6 cm.
Tanaman ini tumbuh liar di tempat terbuka atau sedikit terlindung dari sinar matahari, seperti di tanah kosong, tegalan, lapangan rumput, pinggir jalan, atau di lahan pertanian, dan tumbuh sebagai gulma yang susah diberantas.
Menurut Ir. Heru, bagian rumput teki yang bisa digunakan adalah umbinya yang mengandung alkaloid, flavonoid, sineol, pinen, siperon, rotunal, siperenon, dan siperol. Sifat kimiawi dan efek farmakologis rumput teki adalah rasa pedas, sedikit pahit, dan manis, berkhasiat menormalkan siklus haid, menghilangkan rasa sakit (analgesik) dan sebagai penenang (sedatif). Dalam TCM, tambah Retno, rumput teki masuk meridian hati dan san ciao.
Dalam konsep TCM, rimpang teki punya sifat mendinginkan. Secara empiris, teki telah lama digunakan masyarakat Cina dan India sebagai obat peluruh haid. Sebuah situs kesehatan menyebutkan, penelitian di Cina menemukan bahwa secara tunggai maupun kombinasi, 6-9 gram rimpang teki bisa membantu meringankan ketidakteraturan siklus haid serta meringankan sindrom pramenstruasi (PMS). Rimpang teki juga sering dipakai untuk meningkatkan nafsu makan, meredakan demam, dan meringankan penyakit hati. Di India digunakan sebagai produk perawatan rambut dan kulit. Kandungan minyak atsirinya digunakan sebagai parfum.
 

3. Bandotan (Ageratum conyzoides)

Bandotan (Ageratum conyzoides) adalah sejenis gulma pertanian anggota suku Asteraceae. Terna semusim ini berasal dari Amerika tropis, khususnya Brazil, akan tetapi telah lama masuk dan meliar di wilayah Nusantara. Disebut juga sebagai babandotan atau babadotan (Sd.); wedusan (Jw.); dus-bedusan (Md.); serta Billygoat-weed, Goatweed, Chick weed, atau Whiteweed dalam bahasa Inggris, tumbuhan ini mendapatkan namanya karena bau yang dikeluarkannya menyerupai bau kambing.
Terna berbau keras, berbatang tegak atau berbaring, berakar pada bagian yang menyentuh tanah, batang gilig dan berambut jarang, sering bercabang-cabang, dengan satu atau banyak kuntum bunga majemuk yang terletak di ujung, tinggi hingga 120 cm. Daun-daun bertangkai, 0,5–5 cm, terletak berseling atau berhadapan, terutama yang letaknya di bagian bawah. Helaian daun bundar telur hingga menyerupai belah ketupat, 2–10 × 0,5–5 cm; dengan pangkal agak-agak seperti jantung, membulat atau meruncing; dan ujung tumpul atau meruncing; bertepi beringgit atau bergerigi; kedua permukaannya berambut panjang, dengan kelenjar di sisi bawah. Bunga-bunga dengan kelamin yang sama berkumpul dalam bongkol rata-atas, yang selanjutnya (3 bongkol atau lebih) terkumpul dalam malai rata terminal. Bongkol 6–8 mm panjangnya, berisi 60–70 individu bunga, di ujung tangkai yang berambut, dengan 2–3 lingkaran daun pembalut yang lonjong seperti sudip yang meruncing. Mahkota dengan tabung sempit, putih atau ungu. Buah kurung (achenium) bersegi-5, panjang lk. 2 mm; berambut sisik 5, putih.
Tumbuhan ini menyebar luas di seluruh wilayah tropika, bahkan hingga subtropika. Didatangkan ke Jawa sebelum 1860, kini gulma ini telah menyebar luas di Indonesia. Bandotan sering ditemukan sebagai tumbuhan pengganggu di sawah-sawah yang mengering, ladang, pekarangan, tepi jalan, tanggul, tepi air, dan wilayah bersemak belukar. Ditemukan hingga ketinggian 3.000 m, terna ini berbunga sepanjang tahun dan dapat menghasilkan hingga 40.000 biji per individu tumbuhan. Karenanya, gulma ini dirasakan cukup mengganggu di perkebunan. Di luar Indonesia, bandotan juga dikenal sebagai gulma yang menjengkelkan di Afrika, Asia Tenggara, Australia, serta di Amerika Serikat.
Manfaat babadotan dikenal luas sebagai obat luka. Menurut Heyne, daun tumbuhan ini diremas-remas, dicampur dengan kapur, dioleskan pada luka yang masih segar. Rebusan dari daun juga digunakan untuk obat sakit dada, sementara ekstrak daunnya untuk obat mata yang panas. Akar yang ditumbuk dioleskan ke badan untuk obat demam; ekstraknya dapat diminum.
Meski demikian, tumbuhan ini juga memiliki daya racun. Di Barat, bandotan juga dimanfaatkan sebagai insektisida dan nematisida. Sementara, penelitian lain menemukan bahwa bandotan dapat menyebabkan luka-luka pada hati dan menumbuhkan tumor. Tumbuhan ini mengandung alkaloid pirolizidina.


4. Patikan Kebo ( Euphorbia hirta )

Terna, tegak atau memanjat, tinggi lebih kurang 20 cm, batang berambut, percabangan selalu keluar dan pangkal batang dan tumbuh ke atas, warna merah atau keunguan. Daun berbentuk jonong meruncing sampai tumpul, tepi daun bergerigi. Perbungaan bentuk bola keluar dan ketiak daun bergagang pendek, berwarna dadu atau merah kecoklatan. Bunga mempunyai susunan satu bunga betina dikelilingi oleh lima bunga yang masing-masing terdiri atas empat bunga jantan.
Patikan kebo mempunyai sifat anti inflamasi (anti radang), diuretic (peluruh kencing) dan anti pruritic (menghilangkan gatal). Kandungan kimiawi yang sudah diketahui dari patikan kebo antara lain, taraxerol, friedlin, betha amyrin, betasitosterol, beta eufol, euforbol, triterpenoid, tirukalol, eufosterol, hentriacontane, flavonoid, tanin, elagic acid. Dan berdasarkan catatan hasil penelitian dan pengalaman di berbagai daerah dan penyakit negara, tanaman ini dapat mengobati disentri, melancarkan kencing, mengobati asbes paru, bronchitis kronis, asbes payudara, typus abdomenalis, radang ginjal, radang tenggorokan, astma, dan radang kelenjar susu atau payudara bengkak.



5. Putri Malu ( Mimosa pudica )

Putri malu atau Mimosa pudica adalah perdu pendek anggota suku polong-polongan yang mudah dikenal karena daun-daunnya yang dapat secara cepat menutup/”layu” dengan sendirinya saat disentuh. Walaupun sejumlah anggota polong-polongan dapat melakukan hal yang sama, putri malu bereaksi lebih cepat daripada jenis lainnya. Kelayuan ini bersifat sementara karena setelah beberapa menit keadaannya akan pulih seperti semula. Tumbuhan ini memiliki banyak sekali nama lain sesuai sifatnya tersebut, seperti makahiya (Filipina, berarti “malu”), mori vivi (Hindia Barat), nidikumba (Sinhala, berarti “tidur”), mate-loi (Tonga, berarti “pura-pura mati”) . Namanya dalam bahasa Cina berarti “rumput pemalu”. Kata pudica sendiri dalam bahasa Latin berarti “malu” atau “menciut”.Keunikan dari tanaman ini adalah bila daunnya disentuh, ditiup, atau dipanaskan akan segera “menutup”. Hal ini disebabkan oleh terjadinya perubahan tekanan turgor pada tulang daun. Rangsang tersebut juga bisa dirasakan daun lain yang tidak ikut tersentuh. Gerak ini disebut seismonasti, yang walaupun dipengaruhi rangsang sentuhan (tigmonasti), sebagai contoh, gerakan tigmonasti daun putri malu tidak peduli darimana arah datangnya sentuhan. Tanaman ini juga menguncup saat matahari terbenam dan merekah kembali setelah matahari terbit.
Tumbuhan semak berduri Putri Malu (Mimosa Pudica) ini memiliki sifat manis dan agak dingin, hingga disebut putri pemalu. Sifat dari Putri Malu atau Mimosa Pudica yang pemalu ternyata mempunyai beberapa manfaat dan Khasiat untuk kesehatan, seperti : peluruh dahak, anti batuk, penurun panas anti radang, peluruh air seni, mengobati gangguan/sulit tidur (insomnia) dll.
by. 5301.LEK VII.069.05
dari berbagai sumber   

Selasa, 04 Oktober 2011

LTC 2011 Terlaksana dengan Sukses

Lomba lintas alam yang diadakan oleh LEKMAPALA telah berakhir dan berjalan dengan sukses. Kegiatan yang di beri nama LEKMAPALA TRACKING COMPETITION (LTC) 2011 ini terlaksana pada hari Sabtu-Minggu, 1-2 Oktober 2011, sesuai dengan rencana panitia. LTC 2011 kali ini diikuti oleh 30 tim yang berasal dari berbagai SMA sederajat di Jawa Tengah.
Dari 30 peserta yang mengikuti kegiatan ini terpilihlah Team GAPUTA I dari SMA N 3 Semarang sebagai juara pertama. Disusul juara kedua yaitu Team STUPA VENOMOUS dari SMA SMK N 1 Magelang dan juara ketiga disandang Team GASMAPALA I dari SMA N 1 Batang. Masing-masing juara berhak mendapatkan Trophy, Uang pembinaan dan bingkisan dari EIGER dan Lhotse Adventure Gear. Dan untuk hasil perolehan nilai seluruh peserta dapat diunduh di sini.
Kegiatan ini terlaksana dengan sukses berkat kerjasama dari semua pihak diantaranya EIGER, Lhotse, Cartenz, Cooster, PDAM Tirta Moedal, TVRI Jateng, ASA Air Minum, ONNIC yang telah memberikan sponsor. Dan dukungan dari teman-teman PAPANES yang telah merelakan tenaga dan pikiran.
"Kami sangat berterima kasih sebanyak-banyaknya, kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan serta partisipasi demi kelancaran kegiatan ini, dan juga tidak lupa kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras untuk mensukseskan kegiatan ini. Sekali lagi kami ucapkan beribu-ribu terima kasih." ungkap Dwi Agung Panca Sakti selaku Ketua Panitia LTC 2011.
LEKMAPALA... LESTARI...